arum 12

Mahasiswi MAZAWA soroti Digital Leadership & Waqf di Konferensi Internasional University of Greater Manchester Inggris

Manchester, Inggris (27 Oktober 2025) __ Arum Fitri Lestari mahasiswa Manajemen Zakat dan Wakaf (MAZAWA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, sukses mempresentasikan hasil risetnya dalam ajang Joint Conference on Empowering Leaders for Global Contemporary Businesses yang diselenggarakan oleh University of Greater Manchester, bekerja sama dengan University of Bradford dan SHE Inspires Foundation, Inggris.

Konferensi internasional yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2025 ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemimpin industri dari berbagai negara untuk membahas inovasi kepemimpinan, nilai etika, dan strategi keberlanjutan di era digital. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.

Dalam forum bergengsi ini, Arum memaparkan penelitian berjudul “Digital Leadership in the Implementation of the e-AIW System: An Ethnographic Case Study at KUA Kartasura.” Penelitian tersebut dilakukan dengan arahan dan bimbingan dari dosen pendamping, Betty Eliya Rokhmah, M.Sc. dan Asep Maulana Rohimat, M.S.I. Arum berkesempatan memaparkan hasil risetnya pada sesi Track 5: Global Talent Strategies and Technological Transformation pukul 10.45 waktu Inggris, yang berfokus pada isu kepemimpinan, teknologi, dan inovasi sumber daya manusia di era digital.

Penelitian yang dilakukan Arum menyoroti praktik kepemimpinan digital di lembaga keagamaan, khususnya dalam implementasi sistem Akta Ikrar Wakaf Elektronik (e-AIW) di Kantor Urusan Agama (KUA) Kartasura, Sukoharjo. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, Arum menggambarkan bagaimana kepala KUA menjalankan peran sebagai pemimpin yang adaptif terhadap transformasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritualitas dan etika birokrasi.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi sistem e-AIW tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada kualitas kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan inovasi digital dengan nilai religius dan moralitas publik.

Tiga dimensi utama kepemimpinan yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi:

  1. Kepemimpinan adaptif, yang tanggap terhadap keterbatasan infrastruktur dan literasi digital.
  2. Kepemimpinan kolaboratif, yang membangun sinergi antara kepala KUA, operator, dan lembaga pendukung.
  3. Kepemimpinan berbasis nilai, yang menempatkan amanah, kejujuran, dan tanggung jawab sebagai pedoman dalam proses digitalisasi layanan keagamaan.

Melalui hasil tersebut, Arum memperkenalkan konsep religiously embedded digital leadership atau kepemimpinan digital yang berakar pada nilai spiritual dan akuntabilitas etis. Konsep ini menegaskan bahwa inovasi teknologi dalam lembaga publik tidak boleh sekadar berorientasi pada efisiensi, tetapi juga harus berlandaskan nilai kemanusiaan dan moralitas sosial.

Tags: No tags

Comments are closed.