SUKOHARJO – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta mengambil langkah progresif dengan menginisiasi kolaborasi industri strategis bersama Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan kolaboratif ini berlangsung di Gedung Menara Wijaya pada hari Senin (11/05). Pertemuan yang dihadiri oleh belasan pimpinan perusahaan ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi mahasiswa dari enam program studi unggulan FEBI kepada dunia usaha. Dekan FEBI, Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin, M.Si. menekankan pentingnya sinergi ini guna mengatasi isu pengangguran melalui penguatan program magang terstruktur selama enam bulan penuh. Oleh karena itu, hubungan timbal balik antara akademisi dan praktisi diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih adaptif. Langkah ini pun dinilai krusial untuk menutup celah perbedaan kompetensi antara dunia kampus dan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Sinergi Pentahelix dan Optimalisasi Kolaborasi Industri
Kepala Disperinaker Sukoharjo, Setyo Aji Nugroho, S. Sos, MH. menyambut baik inisiatif ini sebagai bentuk sinergi yang sangat dinamis untuk pertumbuhan ekonomi daerah. Beliau menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung biaya magang bagi mahasiswa sehingga perusahaan dapat fokus menjadi penerima manfaat talenta. “Industri berjalan sangat cepat, sehingga sinergitas harus dibangun bersama untuk menyiapkan ruang bagi mahasiswa,” ungkap Kepala Dinas dalam sambutannya. Selanjutnya, kolaborasi industri ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap kebijakan kementerian dapat terimplementasi dengan baik di lapangan. Pertumbuhan ekonomi Sukoharjo yang berada di atas rata-rata nasional menjadi momentum emas bagi mahasiswa untuk berkontribusi secara langsung.
Menjawab Tantangan Mentalitas Generasi Z
Meskipun peluang terbuka lebar, para pelaku usaha memberikan catatan kritis mengenai aspek attitude dan ketahanan mental generasi Z. Perwakilan dari industri garmen dan periklanan mengungkapkan bahwa kendala utama saat ini bukan sekadar skill, melainkan adab dalam bekerja. Banyak perusahaan merasa trauma dengan perilaku magang yang kurang disiplin, sehingga pembekalan karakter sebelum terjun ke lapangan sangat diperlukan. Selain itu, kompetensi mahasiswa diharapkan lebih linear dengan kebutuhan teknis yang semakin spesifik di berbagai sektor manufaktur. Masalah internal seperti tingginya angka turnover juga menjadi tantangan yang harus dicarikan solusinya secara bersama-sama.
Inovasi Praktisi Mengajar dan Riset Terapan
Sebagai respons atas masukan tersebut, FEBI menawarkan program praktisi mengajar untuk membawa pengalaman nyata ke dalam ruang kelas. Para pimpinan industri pun diundang untuk berpartisipasi aktif dalam menyempurnakan kurikulum agar lebih berbasis pada data riil lapangan. Di sisi lain, kolaborasi ini juga membuka pintu bagi riset terapan dan penulisan jurnal yang sangat dibutuhkan oleh dunia industri. Pihak kampus menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini tidak hanya mencari tempat magang, tetapi membangun kemitraan yang berkelanjutan. Dengan demikian, integrasi antara dunia pendidikan dan industri dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih kuat bagi masyarakat.
Komitmen Keberlanjutan Kemitraan Strategis
Berbagai perusahaan mulai dari sektor tekstil, kesehatan, hingga teknologi menyatakan kesiapan mereka untuk menindaklanjuti nota kesepahaman (MoU) dengan pihak FEBI. Meskipun beberapa sektor masih terkendala regulasi lahan dan bahan baku, pintu komunikasi tetap dibuka lebar bagi calon tenaga kerja berbakat. Mahasiswa diharapkan mampu menguasai keahlian komputer dan bahasa Inggris sebagai modal dasar di semua lini industri saat ini. Akhirnya, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa penguatan mentalitas dan etika kerja adalah kunci keberhasilan dalam persaingan global. Kerangka kerja sama ini dipastikan akan terus dievaluasi secara berkala demi kemajuan bersama antara kampus dan mitra perusahaan.


