WhatsApp Image 2025-09-25 at 09.31.51

SEMA Hadirkan Parlemen Rekacipta : Mengasah Communication Skill dalam Organisasi

Sukoharjo, 25 September 2025 — Senat Mahasiswa (SEMA) FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta kembali menghadirkan program unggulan, Parlemen Rekacipta. Tahun ini, kegiatan difokuskan pada pelatihan Communication Skill dalam Organisasi.

Kemampuan komunikasi kini menjadi keterampilan dasar. Mahasiswa tidak hanya dituntut menyampaikan pendapat, tetapi juga harus mampu membangun kolaborasi dan solusi. Melihat kebutuhan tersebut, SEMA FEBI berkomitmen menyediakan ruang belajar yang relevan dengan tantangan zaman.

Pentingnya Komunikasi Bagi Mahasiswa

Acara dibuka dengan sambutan Wakil Dekan II FEBI. Beliau menegaskan, komunikasi memiliki peran besar dalam membangun jejaring mahasiswa. Keterampilan ini bukan hanya berguna di masa kuliah, tetapi juga setelah lulus.

Ia menambahkan, komunikasi yang baik berakar pada sikap kritis, empati, dan kejujuran. Dengan bekal ini, mahasiswa lebih siap menghadapi dinamika organisasi dan menemukan solusi nyata.

Sambutan juga diberikan oleh Ketua Umum SEMA FEBI. Ia menilai, pelatihan ini adalah bukti keseriusan organisasi dalam menyiapkan mahasiswa sebagai calon pemimpin. “Mahasiswa adalah agen perubahan. Komunikasi yang baik menentukan sejauh mana kita bisa membangun relasi, menyuarakan aspirasi, dan membawa perubahan,” ujarnya.

Materi dan Pemaparan Interaktif

Pelatihan menghadirkan Fadzlian Rizky Reinaldy sebagai pemateri utama. Dengan pengalaman organisasi dan kapasitas akademiknya, ia berhasil menciptakan suasana yang interaktif.

Dalam paparannya, Fadzlian menekankan bahwa komunikasi bukan hanya berbicara di depan umum. Komunikasi juga berarti mendengarkan, memahami pesan, dan merespons dengan tepat.

Ia membagi materi menjadi tiga poin utama:

  1. Komunikasi efektif. Organisasi berjalan baik bila setiap anggota mampu menyampaikan gagasan dengan jelas. Pola komunikasi sehat membangun rasa percaya dan memperkuat solidaritas.
  2. Relasi lewat empati. Berbicara bukan hanya soal menyampaikan pesan. Pesan harus diterima dengan baik agar konflik bisa diminimalkan.
  3. Berpikir kritis. Ide yang didukung analisis tajam lebih mudah diterima. Komunikasi dengan argumen kritis terdengar meyakinkan sekaligus membuka ruang solusi.

Refleksi dan Penutup

Peserta diajak memahami bahwa organisasi tidak cukup hanya dengan semangat. Diperlukan komunikasi yang solutif dan terarah. Bukan sekadar bersuara, tetapi berbicara dengan isi, arah, dan empati.

Acara ditutup dengan refleksi bersama. Mahasiswa menyadari bahwa komunikasi adalah keterampilan yang harus terus diasah. Dengan komunikasi yang baik, organisasi akan menjadi ruang tumbuh. Tempat gagasan bernyawa, relasi diperkuat, dan solusi lahir untuk kemajuan bersama.

Tags: No tags

Comments are closed.