Inovasi Ekonomi Hijau dari Pesantren
Klaten (8/9/2025)– Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta terus berkomitmen menghadirkan inovasi berbasis keberlanjutan (SDGs). Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), FEBI menginisiasi produksi pupuk organik cair berskala industri di Pondok Pesantren (Ponpes) Kyai Ageng Selo Klaten. Program ini menjadi langkah strategis dalam mendukung pertanian ramah lingkungan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kegiatan pertama dalam serangkaian PKM ini dilaksanakan pada 8 September 2025 di pondok pesantren Kyai Ageng Selo Klaten.
Kolaborasi Dosen FEBI dan Pengelola Pesantren
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin, M.Si., Dekan FEBI, bersama tim PKM yang terdiri dari Dr. Ika Yoga, S.E., M.M., Fajar Santoso, M.M., dan Mufti Arief Arfiansyah, M.Ak.. Dalam forum sarasehan, kedua pihak merumuskan strategi pengembangan pupuk cair organik agar mampu diproduksi dengan skala industri. Program ini berbasis pada tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada sektor ekonomi hijau dan inovasi produk pesantren.
Pengasuh Ponpes Kyai Ageng Selo, KH. Heri Sarwaka, menjelaskan bahwa pesantren telah mengembangkan pupuk organik cair sejak tahun 2021. Upaya ini berawal dari program greenhouse smart farming yang dihibahkan oleh Bank Indonesia. Sejak saat itu, pesantren secara konsisten melakukan percobaan hingga menghasilkan produk pupuk organik cair yang berkualitas.
Dukungan PKM FEBI: Uji Laboratorium, Branding, dan Pemasaran
Dalam tahap berikutnya, FEBI akan mendampingi pesantren untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk. Pendampingan meliputi uji laboratorium, penguatan branding produk, serta strategi pemasaran kreatif agar pupuk organik cair Kyai Ageng Selo dapat bersaing di pasar pertanian nasional.
Melalui kolaborasi ini, Ponpes Kyai Ageng Selo diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi hijau berbasis pesantren. Produk pupuk organik cair tidak hanya mendukung pertanian ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi santri dan masyarakat sekitar. Sinergi antara perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan pesantren ini menjadi contoh nyata kontribusi pada pembangunan berkelanjutan di Indonesia.


