mahasiswa-asing-febi-uin-surakarta-ikuti-pbak-mandiri

7 Mahasiswa Asing FEBI UIN Surakarta Dikenalkan Budaya Akademik Kampus

Surakarta, 22 September 2025 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta sukses menggelar pengenalan budaya akademik mahasiswa asing. Acara ini berlangsung di Aula Pendapi Mangkunegaran FEBI dan menghadirkan 7 mahasiswa dari 4 negara berbeda.

Para mahasiswa asing yang hadir berasal dari berbagai program studi. Mereka adalah Mamudou Bah (Gambia, Bisnis Digital), Aliyu Yusuf (Nigeria, Mazawa), Fajeriah Nurul Fadilah Dos Santos Narciso (Timor Leste, MBS), Sakiena Ala Landas (MBS), Norasia Malawani Alawi (PBS), Sailaden Dipatuan Edris (Ekonomi Syariah), dan Walid Sabdullah Esmail (Akuntansi Syariah).

Sambutan Dekan Untuk Mahasiswa Asing FEBI UIN Surakarta

Kegiatan ini diawali sambutan Dekan FEBI, Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin, M.Si. Ia menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan dalam dunia akademik.

“Mahasiswa asing adalah bagian dari keluarga besar FEBI. Kehadiran mereka memperkaya sudut pandang dan memperkuat jejaring internasional,” tegas Prof. Rahmawan.

Setelah itu, para wakil dekan dan koordinator program studi menyampaikan pengenalan visi, misi, serta sistem akademik. Hal ini bertujuan agar mahasiswa asing dapat beradaptasi lebih mudah dengan budaya akademik kampus.

Suasana Kebersamaan dan Harapan FEBI

Acara ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga ruang kebersamaan. Mahasiswa asing FEBI UIN Surakarta memperkenalkan diri, sementara peserta lain merasa ikut terlibat menyambut mereka. Dengan begitu, pengenalan budaya akademik mahasiswa asing menjadi momen inklusif yang menyatukan seluruh sivitas.

Kegiatan ditutup dengan ramah tamah. Harapan besar disampaikan agar mahasiswa asing menjadi duta kampus di negara asal. “Dengan bekal ilmu dan pengalaman budaya, mereka diharapkan membawa nama baik UIN Surakarta,” tutur salah satu wakil dekan.

Dengan acara ini, FEBI menegaskan komitmennya membangun suasana akademik yang inklusif, global, dan berakar pada nilai keislaman.

literasi-keuangan-digital-umkm-febi-uin-surakarta-bersama-bank-raya

Literasi Keuangan Digital UMKM: Sinergi UIN Raden Mas Said dan Bank Raya

Surakarta, 20 September 2025 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta kembali mengukuhkan komitmennya untuk pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Literasi Keuangan Digital UMKM. Program ini diinisiasi oleh empat dosen, yaitu Helmi Haris, Adhelia Desi Prawestri, Yuni Astuti, dan Luluk Ayuningtyas.

Kegiatan tersebut menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kampus. Melalui sinergi bersama Bank Raya, literasi ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan digital sekaligus memperkuat daya saing UMKM di tengah transformasi ekonomi yang kian cepat.

Literasi Keuangan Digital UMKM sebagai Solusi Praktis

Acara dilaksanakan di Outdoor Hall Gedung SBSN UIN Surakarta dengan menghadirkan Ibu Fatma dari Bank Raya Cabang Solo. Materi yang disampaikan mencakup penggunaan aplikasi pencatatan keuangan, pemanfaatan QRIS, serta layanan digital banking. Peserta juga diajak praktik langsung agar memahami cara digitalisasi mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi keuangan usaha.

“Digitalisasi membuat UMKM lebih terorganisir dan siap bersaing di pasar modern. Kami ingin peserta merasakan manfaat nyata,” ungkap Fatma.

Antusiasme Peserta dan Manfaat Nyata

Antusiasme terlihat jelas dari para pelaku UMKM kuliner dan jasa. Mereka aktif berdiskusi, mencoba aplikasi, serta berbagi pengalaman usaha. Menurut Yuni Astuti, kegiatan ini bukan hanya teori, tetapi praktik nyata. “Kami ingin UMKM bisa mandiri mengadopsi teknologi digital sehingga usahanya lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Peran FEBI dalam Pemberdayaan Masyarakat

Melalui kegiatan Literasi Keuangan Digital UMKM, FEBI menegaskan perannya sebagai jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. Dukungan akademisi, ditambah mitra perbankan, memperkuat pesan bahwa literasi digital adalah kebutuhan mendesak. Dengan program ini, UMKM tidak hanya dibekali ilmu, tetapi juga keterampilan untuk berkembang di era digital.

Ilustrasi empat orang saling berbagi lampu bohlam bercahaya sebagai simbol berbagi pengetahuan, dengan latar hijau dan teks besar bertuliskan 'Nurturistic Knowledge Sharing: Saat Empati Jadi Senjata Rahasia Kinerja Organisasi

Nurturistic Knowledge Sharing: Saat Empati Jadi Senjata Rahasia Kinerja Organisasi

Oleh: Prof. Dr. Fitri Wulandari, S.E., M.Si.

Di tengah dunia kerja yang makin kompetitif, kita sering mendengar istilah knowledge sharing atau berbagi pengetahuan. Tapi bagaimana jika praktik berbagi ini tidak sekadar transfer informasi biasa, melainkan dilakukan dengan empati, kepedulian, dan semangat saling dukung? Inilah yang saya sebut sebagai Nurturistic Knowledge Sharing Quality—konsep yang menjadi inti dari orasi ilmiah saya.

Berbeda dari budaya kerja yang kaku dan penuh kompetisi, nurturistic sharing mendorong karyawan untuk saling membantu tanpa pamrih. Kita tak hanya berbagi karena disuruh atau berharap imbalan, tapi karena ingin tumbuh bersama. Ini adalah bentuk profesionalisme yang hangat, manusiawi, dan ternyata… sangat efektif!

Karyawan Bukan Sekadar Sumber Daya, Tapi Mitra Tumbuh

Organisasi yang hebat bukan hanya yang punya teknologi canggih atau struktur yang rapi, tapi yang punya karyawan yang saling percaya dan peduli. Ketika lingkungan kerja mendukung budaya berbagi pengetahuan yang tulus, hasilnya luar biasa: kinerja meningkat, inovasi bermunculan, dan loyalitas karyawan pun menguat.

Namun, budaya ini tidak muncul begitu saja. Dibutuhkan komitmen organisasional yang kuat—bukan hanya dari manajemen puncak, tapi juga dari setiap individu. Komitmen ini mencakup rasa memiliki terhadap organisasi, kesadaran akan tanggung jawab bersama, dan keinginan untuk tetap berkontribusi dalam jangka panjang.

Dampaknya? Nyata dan Jangka Panjang

Studi saya menunjukkan bahwa kombinasi nurturistic sharing dan komitmen tinggi menghasilkan karyawan yang lebih produktif, lebih kolaboratif, dan lebih tahan terhadap tekanan perubahan. Organisasi pun jadi lebih adaptif, lebih berkelanjutan, dan lebih “manusia”.

Tidak ada salahnya kita mulai bertanya: apakah kita sudah cukup peduli pada rekan kerja? Apakah kita mau berbagi ilmu dengan tulus, atau masih menahan informasi demi gengsi? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kecil itu bisa berdampak besar pada masa depan organisasi kita.

Saatnya Berbagi dengan Hati

Di era pascapandemi ini, kita ditantang untuk membangun organisasi yang tidak hanya efisien, tapi juga berempati. Budaya kerja yang ramah, terbuka, dan saling mendukung bukan hanya membuat kita merasa nyaman, tapi juga mendorong performa yang lebih tinggi. Dengan Nurturistic Knowledge Sharing, kita tidak hanya bekerja—kita tumbuh bersama.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya di FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta