penutupan-asesmen-lapangan-lamemba-febi-uin-surakarta

FEBI UIN Surakarta Selesaikan Asesmen Akreditasi Dua Prodi Strategis

Surakarta, 9 Agustus 2025 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta resmi menutup rangkaian Asesmen Akreditasi untuk dua Prodi Strategis, yaitu Prodi Ekonomi Syariah dan Akuntansi Syariah, yang berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 5 hingga 9 Agustus 2025.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh LAMEMBA (Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi). Dua asesor yang hadir adalah Dr. Tri Lestari, SE., M.Sc. Ak., Ph.D. dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan Dr. Aas Nurasyiah, M.Si. dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Selama asesmen, tim asesor melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Dokumen Kinerja Program Studi (DKPS), wawancara, dan observasi lapangan. Tujuannya adalah memastikan kedua prodi memenuhi standar mutu pendidikan tinggi.

Penutupan asesmen dipimpin oleh Dr. Zainul Abbas yang mewakili Rektor UIN RM Said Surakarta. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas masukan dari para asesor dan berharap hasil asesmen ini dapat menjadi pijakan pengembangan program studi ke depan.

Acara ditutup dengan penyerahan Berita Acara Asesmen Lapangan dari asesor kepada Dekan FEBI, Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin, M.Si. Penyerahan tersebut disaksikan oleh para Ketua Jurusan, Koordinator Prodi, dan Wakil Dekan.

Dalam sesi evaluasi akhir, para asesor memberikan rekomendasi strategis. Beberapa di antaranya mencakup penguatan kurikulum, peningkatan tata kelola, serta pengembangan berkelanjutan berbasis data.

“Kami mengapresiasi komitmen tim pengelola prodi. Evaluasi ini bukan akhir, tapi awal dari perbaikan berkelanjutan menuju mutu pendidikan yang lebih baik,” ujar Dr. Aas Nurasyiah.

Melalui Asesmen Akreditasi dua Prodi ini, FEBI UIN Surakarta berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan demi menghasilkan lulusan yang unggul dan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.

Dibaca juga : FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta dan Yangzhou Polytechnic College Tindaklanjuti MoU dengan Rencana Program Double Degree

bumida-1600x900

FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta dan Yangzhou Polytechnic College Tindaklanjuti MoU dengan Rencana Program Double Degree

Surakarta, 12 Mei 2025 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta semakin memperluas jejaring internasionalnya melalui kerja sama lanjutan dengan Yangzhou Polytechnic College, Provinsi Jiangsu, Republik Rakyat Tiongkok. Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani oleh kedua institusi pada tahun 2024 lalu.

Dalam kerja sama strategis ini, FEBI dan Yangzhou Polytechnic College menyepakati pelaksanaan program double degree antara Program Studi S1 Bisnis Digital UIN Raden Mas Said dan program Bachelor of Commerce di Yangzhou Polytechnic College.

Melalui skema ini, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital yang terpilih akan menjalani studi semester 3, 4, dan 5 di kampus mitra di Tiongkok. Setelah menyelesaikan seluruh proses akademik sesuai kurikulum yang telah diselaraskan, mahasiswa akan berhak memperoleh dua gelar sekaligus: Sarjana Ekonomi dari UIN Raden Mas Said dan Bachelor of Commerce dari Yangzhou Polytechnic College.

Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam upaya internasionalisasi program studi di lingkungan FEBI. “Program double degree ini merupakan langkah nyata FEBI dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi global, adaptif terhadap dinamika digital, dan memiliki pengalaman internasional yang konkret,” ujar Dekan FEBI, Prof. Dr. M Rahmawan Arifin, M.Si. dalam keterangannya.

Program ini juga dirancang untuk membuka peluang kolaborasi lain seperti pertukaran dosen, seminar internasional, serta pengembangan kurikulum berbasis global. Kedua institusi berkomitmen untuk memulai implementasi akademik perdana program double degree ini pada tahun ajaran 2025/2026.

Langkah ini selaras dengan visi UIN Raden Mas Said Surakarta dalam mencetak lulusan yang unggul dan berdaya saing tinggi di tingkat regional maupun internasional, khususnya dalam bidang ekonomi dan bisnis digital berbasis nilai-nilai keislaman dan keberlanjutan.

kolaborasi BWI dengan FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta

Mazawa FEBI UIN Surakarta Ikuti Webinar BWI: Bahas Kunci Sukses Wakaf Produktif

Surakarta, 24 Juli 2025 — Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta turut ambil bagian dalam webinar nasional bertema “Kunci Sukses Pengelolaan Wakaf Produktif”. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada Kamis, 24 Juli 2025 pukul 13.30 WIB.

Acara dipandu oleh Dr. K.H. Agus Priyatno, M.M., Ketua Divisi Humas, Sosialisasi, dan Literasi BWI. Narasumber utama adalah Ustazah Bannasari, S.Ag., Direktur Wakaf Orbit Adora Relief International. Ia memaparkan praktik wakaf produktif bertaraf internasional dan bagaimana membangun ekosistem wakaf yang berkelanjutan.


Strategi Wakaf Produktif Menurut BWI

Webinar membahas enam poin utama dalam strategi pengelolaan wakaf produktif:

  1. Integrasi Ekosistem Wakaf Nasional
    Mendorong sinergi antara BWI, Kemenag, Kemenkeu, dan KNEKS.
  2. Literasi dan Edukasi
    Edukasi masif untuk kampus, pesantren, dan masyarakat umum.
  3. Regulasi dan Tata Kelola
    Revisi UU Wakaf dan pedoman teknis wakaf uang.
  4. Penguatan SDM Nazhir
    Pelatihan khusus dan sistem akreditasi lembaga.
  5. Digitalisasi Wakaf
    Pemanfaatan platform seperti SatuWakaf, SAMAWI, dan IIWCP.
  6. Kolaborasi Stakeholder
    Kerja sama antara pemerintah, sektor keuangan syariah, masyarakat sipil, dan dunia usaha.

Peran Mazawa FEBI dalam Literasi Wakaf

Dosen dan mahasiswa Mazawa FEBI UIN Raden Mas Said mengikuti sesi ini secara aktif. Mereka belajar langsung dari pengalaman Wakaf Orbit, lembaga nazhir wakaf bertaraf internasional. Kolaborasi dan profesionalisme menjadi poin penting yang perlu diadopsi oleh SDM wakaf masa depan.

“Kami melihat Wakaf Orbit sebagai role model. Mahasiswa Mazawa perlu dibekali wawasan kolaboratif dan literasi digital agar siap menjadi pengelola wakaf yang andal,” ujar salah satu dosen Mazawa.

Meskipun UIN Surakarta belum menjadi nazhir institusional, Prodi Mazawa telah membekali mahasiswanya untuk mampu berperan strategis dalam ekosistem wakaf nasional.

Pemberdayaan-Petani-Wonosobo

FEBI UIN Surakarta Dorong Pemberdayaan Petani Wonosobo Melalui Filantropi Islam

Wonosobo, 10 Desember 2022 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta menunjukkan komitmennya dalam membangun ekonomi masyarakat desa melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan di Desa Mlandi, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Mengusung tema “Pemberdayaan Petani Tradisional Berbasis Dana Filantropi Islam”, kegiatan ini dipimpin oleh dosen FEBI, Dr. Indah Piliyanti, M.Si, dengan fokus pada optimalisasi potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) dalam meningkatkan kesejahteraan petani tradisional.

Integrasi Filantropi Islam dan Kemandirian Ekonomi Desa

Kegiatan PkM ini dirancang untuk membekali petani dengan pelatihan manajemen usaha pertanian berbasis syariah serta akses bantuan modal melalui dana zakat produktif dan skema wakaf bergulir. Selain edukasi, program ini juga memberikan pendampingan dan pembinaan usaha dalam jangka menengah guna menjamin keberlanjutan program secara ekonomis dan spiritual.

Dampak dan Harapan Ke Depan

Program ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat dan aparat desa. Diharapkan, sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat ini dapat menjadi model replikasi nasional dalam pembangunan ekonomi berbasis nilai-nilai Islam.

“Melalui pendekatan filantropi Islam, pemberdayaan petani tidak hanya menyasar peningkatan pendapatan, tetapi juga penguatan spiritualitas, solidaritas sosial, dan kemandirian jangka panjang,” ungkap Dr. Indah Piliyanti.

FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta terus mendorong inovasi pengabdian berbasis riset yang mampu menjawab tantangan riil di masyarakat, terutama pada sektor akar rumput seperti pertanian desa.

Narasumber dari PT Danone memaparkan materi CSR di Aula Mangkunegara FEBI UIN Surakarta

Public Lecturer FEBI UIN Raden Mas Said: CSR dalam Profil Lulusan Mazawa

Sukoharjo, 11 Juli 2025 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta mengadakan kegiatan Public Lecturer bertajuk “Integrasi CSR dalam Profil Lulusan Mazawa: Peluang, Tantangan, dan Implikasi Kurikulum”. Kegiatan ini menghadirkan Lintang Eka Prakusya, S.Geo., M.H., CSR Officer dari PT Danone Indonesia, sebagai narasumber utama.

Kuliah umum ini diselenggarakan di Aula Mangkunegara FEBI dan dibuka oleh Rina Hastuti, M.M., Ph.D., Ketua Jurusan Manajemen dan Akuntansi Syariah, mewakili Dekan FEBI. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan diikuti oleh dosen Mazawa serta dosen lintas program studi di lingkungan kampus.

CSR Officer: Profil Baru untuk Lulusan Prodi Mazawa

Tema ini diangkat karena pentingnya perluasan profil lulusan Prodi Mazawa. Selama ini, lulusan hanya dikenal kompeten dalam pengelolaan ZISWAF. Namun, peluang kerja saat ini menuntut keterampilan lebih luas.

Oleh karena itu, Prodi Mazawa ingin menambahkan profil CSR Officer dalam kurikulum. Dengan begitu, lulusan dapat bersaing di sektor industri nasional dan global. Penambahan profil ini tentu memerlukan kajian mendalam. Terutama dalam aspek kurikulum dan pengembangan keterampilan mahasiswa.

Tiga Pilar CSR dan Praktik Terbaik dari Industri

Dalam pemaparannya, Lintang menjelaskan bahwa CSR bukan sekadar aktivitas sosial perusahaan. CSR adalah strategi yang menyatu dengan keberlanjutan bisnis. Ia terdiri dari tiga pilar utama: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Lebih lanjut, ia menjabarkan bentuk kegiatan CSR yang dijalankan Danone melalui PT Tirta Investama. Fokus utama mereka adalah konservasi sumber daya air dan pelestarian lingkungan sekitar.

Diskusi Interaktif dan Implikasi untuk Kurikulum

Setelah sesi materi, diskusi berlangsung aktif mengenai CSR dalam Profil Lulusan Mazawa. Banyak dosen bertanya seputar implikasi CSR terhadap kurikulum Mazawa. Beberapa topik yang dibahas meliputi penyusunan RPS, kerja sama strategis, dan kebutuhan keahlian analitis mahasiswa untuk bisa diterima sebagai CSR Officer.

Menurut Lintang, perusahaan mencari talenta yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu berpikir kritis dan memahami kebutuhan sosial masyarakat.

Dengan adanya kuliah umum ini, Prodi Mazawa berharap dapat melangkah lebih jauh. Tujuannya adalah membentuk lulusan yang adaptif, kritis, dan siap terjun ke dunia industri. Terutama pada sektor-sektor yang mengedepankan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

DEMA FEBI UIN Raden Mas Said salurkan 5 kambing dari hasil shodaqoh qurban ke Mushola Al Iman. Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan sosial kampus.

DEMA FEBI Salurkan 5 Hewan Qurban dari Shodaqoh Civitas Akademika FEBI UIN Raden Mas Said

Berbagi dalam Kepedulian: Shodaqoh Qurban FEBI UIN Raden Mas Said ke Mushola Al Iman

Sukoharjo, 5 Mei 2025 — Dalam semangat berbagi dan kepedulian sosial, DEMA FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta bersama ORMAWA, LSO, dan Civitas Akademika FEBI menyalurkan 5 ekor kambing qurban hasil shodaqoh qurban ke Mushola Al Iman, Gerjen, Pucangan. Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi nilai-nilai Islam dalam aksi nyata sosial kemasyarakatan.

Qurban dari FEBI ini juga akan didistribusikan ke lima mushola terdekat lainnya yang membutuhkan. Kegiatan berlangsung penuh khidmat, disertai semangat gotong royong dari para mahasiswa dan warga sekitar.

Seremoni Shodaqoh Qurban dan Kehadiran Civitas FEBI

Acara penyerahan hewan qurban dihadiri oleh pengurus DEMA FEBI, perwakilan dari ORMAWA dan LSO, serta dosen dan tenaga pendidik FEBI. Pengurus mushola penerima manfaat juga hadir menerima langsung amanah dari civitas akademika.

Perwakilan DEMA menyampaikan bahwa kegiatan shodaqoh qurban FEBI UIN Raden Mas Said adalah bukti bahwa mahasiswa FEBI tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga aktif menerapkan ilmu dan empati dalam kehidupan nyata.


Memperkuat Peran Mahasiswa sebagai Agen Sosial dan Spiritual

Setelah penyembelihan, daging qurban dibagikan kepada masyarakat sekitar mushola secara merata. Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan kampus dengan masyarakat, sekaligus mengedukasi mahasiswa akan pentingnya nilai berbagi, shodaqoh, dan tanggung jawab sosial.

“Shodaqoh qurban ini adalah bentuk nyata integrasi nilai keislaman dan peran sosial mahasiswa. Kami berharap kegiatan ini menjadi rutinitas yang terus berkembang,” ujar salah satu panitia kegiatan.


Melalui kegiatan ini, shodaqoh qurban FEBI UIN Raden Mas Said tidak hanya memberikan bantuan materi berupa daging qurban, tetapi juga menyampaikan pesan persaudaraan, tanggung jawab sosial, dan kebaikan berkelanjutan di tengah masyarakat.

Animator asal Karanganyar, Salma Nur Amalia, berhasil lulus munaqosyah di semester 14 FEBI UIN Raden Mas Said. Meski sibuk freelance sebagai animator sejak semester 8, ia tetap menyelesaikan studi dengan penuh semangat. Baca kisah harunya di sini!

Animator Asal Karanganyar Ini Lulus Munaqosyah di Semester 14

Sukoharjo – Animator asal Karanganyar lulus munaqosyah semester 14—kalimat yang kini layak disematkan kepada Salma Nur Amalia. Mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta ini berhasil menuntaskan studi setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh liku, hingga menyentuh semester 14.

Berstatus mahasiswa angkatan 2018, Salma memilih jalur tak biasa sejak semester 8: ia menjadi freelance animator. Bekerja dari rumah, Salma menjalani profesi kreatif yang tidak semua orang sanggup tekuni—menggambar, menganimasikan, dan mengirim hasil karya ke klien internasional, dengan penghasilan sekitar 120 dolar per bulan.

Namun, dunia kerja dan kuliah sering kali tidak berjalan seiring.

“Aku sempat ngerasa stuck. Kerjaan datang terus, tapi kuliah malah ketinggalan. Ditambah rasa minder karena teman-teman udah lulus duluan,” ujar Salma saat ditemui usai munaqosyah.

Beban kerja freelance yang menuntut kreativitas tinggi dan tenggat waktu ketat membuat Salma harus pintar membagi waktu. Meski sempat kehilangan semangat dan khawatir tidak bisa menyelesaikan skripsi, ia memilih bertahan. Revisi demi revisi dijalani di tengah malam, dan konsultasi bimbingan dijadwalkan di sela-sela deadline proyek animasi.

“Aku nggak mau nyerah. Orang tua sudah dukung dari awal, masa aku pulang ke Karanganyar tanpa gelar?” tambahnya.

Setelah perjuangan yang menguras tenaga dan pikiran, Salma akhirnya menyampaikan hasil skripsinya di hadapan para dosen penguji. Hari itu, ia resmi lulus munaqosyah. Bukan hanya lulus secara akademik, tapi juga lulus dari ujian kehidupan: antara idealisme berkarya dan tanggung jawab menyelesaikan pendidikan.

Kini, animator lulus munaqosyah semester 14 ini tidak hanya menyandang gelar sarjana, tetapi juga membawa pengalaman kerja nyata yang membanggakan. Dua dunia—profesional dan akademik—berhasil ia taklukkan.


📍 Salma Nur Amalia, NIM 185231181, animator lulus munaqosyah semester 14. Sebuah bukti bahwa berkarya dan menyelesaikan studi bisa berjalan bersama.

Baca berita lainnya di website FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta

Kesejahteraan Indonesia menurut Studi Harvard menempati peringkat tertinggi dunia. Simak ulasan FEBI UIN Said dari sudut pandang Ekonomi Islam.

Kesejahteraan Indonesia Menurut Studi Harvard: Perspektif Ekonomi Islam

Ditulis oleh: Muhammad Hanif Aditya, S.I.Kom., M.E.

FEBI NewsroomIndonesia menduduki peringkat pertama dalam daftar negara paling sejahtera di dunia menurut Studi Harvard. Temuan ini tak hanya membuat dunia tercengang, tetapi juga menjadi cerminan penting bagi kita semua: apakah kesejahteraan sejati hanya ditentukan oleh kekayaan dan pertumbuhan ekonomi?

Apa Itu Studi Harvard tentang Kesejahteraan?

Studi ini berjudul Global Flourishing Study dan dilakukan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health, bekerja sama dengan Gallup dan Human Flourishing Program. Diluncurkan tahun 2021, studi ini melibatkan 203.000 responden dari 22 negara dan satu wilayah (Hong Kong), yang mewakili lebih dari 64% populasi dunia.

Mereka diminta menilai kesejahteraan hidup berdasarkan tujuh indikator:

Kesejahteraan spiritual

  1. Kesehatan
  2. Kebahagiaan
  3. Makna hidup
  4. Karakter
  5. Hubungan sosial
  6. Keamanan finansial
  7. Kesejahteraan spiritual

Indonesia, Negara Paling Sejahtera

Dalam daftar 5 besar negara dengan skor kesejahteraan tertinggi, hasilnya mengejutkan:

  1. Indonesia – 8,10
  2. Israel – 7,87
  3. Filipina – 7,71
  4. Meksiko – 7,64
  5. Polandia – 7,55

Bahkan, negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat berada jauh di bawah Indonesia. AS menempati posisi ke-15, sementara Jepang ada di posisi paling bawah. Apa yang membuat Indonesia unggul?

Faktor Sosial dan Spiritualitas Jadi Kunci

Menurut Harvard, skor tinggi Indonesia tidak lepas dari kuatnya hubungan sosial, karakter pro-sosial, dan kesejahteraan spiritual. Sifat gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan nilai-nilai keagamaan menjadi penyokong utama.

Dalam Ekonomi Islam, ini dikenal sebagai konsep falāh—kesuksesan dan kebahagiaan dunia akhirat. Artinya, kesejahteraan tidak hanya dinilai dari aspek materi, tapi juga dari nilai-nilai ruhani, etika, dan sosial.

Apa Relevansinya untuk Ekonomi Islam?

Ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan dan efisiensi, tapi juga tentang keadilan distributif, ukhuwah sosial, dan maqāṣid al-syarī‘ah (tujuan-tujuan syariah) seperti terjaminnya agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta. Dalam konteks ini, temuan Harvard menunjukkan bahwa:

Kesejahteraan sejati tidak semata-mata diukur dari angka GDP atau tingkat konsumsi, tetapi dari seberapa bermaknanya hidup seseorang dalam bingkai nilai, spiritualitas, dan hubungan sosial.

Fakta bahwa Indonesia unggul dalam aspek hubungan sosial dan karakter pro-sosial menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti gotong-royong, saling tolong-menolong, dan kesalehan sosial masih menjadi kekuatan bangsa—nilai yang juga menjadi ruh dari ekonomi Islam.

Komentar Peneliti

Tyler VanderWeele, profesor epidemiologi di Harvard, mengatakan bahwa “kondisi keuangan semata tidak menjamin kemakmuran.” Sementara itu, Brendan Case dari Human Flourishing Program mengungkapkan bahwa negara seperti Jepang meskipun maju secara ekonomi, justru mengalami penurunan dalam aspek hubungan sosial dan kebahagiaan.

“Kami tidak mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak penting. Tapi studi ini menantang kita untuk berpikir ulang tentang makna development dan kesejahteraan secara lebih holistik,” katanya.

Mahasiswa FEBI, Apa yang Bisa Kita Ambil?

Sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, ada pelajaran penting yang bisa kita petik:

  • Kesejahteraan yang berkelanjutan perlu memperhatikan nilai-nilai moral dan spiritual, bukan hanya angka.
  • Pembangunan ekonomi berbasis Islam harus mengintegrasikan aspek sosial dan keadilan, bukan mengejar profit semata.
  • Etika dalam bisnis dan keuangan syariah tidak hanya soal halal-haram, tapi juga tentang dampaknya terhadap kehidupan dan kebahagiaan manusia.

Jadi, mari kita tanamkan kembali semangat ekonomi berkeadilan dan bermakna, karena ternyata… dunia mulai sadar: spiritualitas dan kemanusiaan adalah kunci kemajuan yang hakiki.

Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Nature Mental Health (2025).

Febrianingrum tersenyum haru seusai munaqosyah, siap mengabdi di PNM.

Dari Ujung Tanduk ke BUMN: Mahasiswi FEBI Semester 14 Ini Akhirnya Lulus dan Berkarier di PNM!

Sukoharjo – Sragen, Munaqosyah, dan Permodalan Nasional Madani. Tiga kata ini merangkum perjalanan luar biasa seorang mahasiswa FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta yang akhirnya menuntaskan studinya setelah bertahun-tahun perjuangan. Dialah Febrianingrum, mahasiswi Program Studi Manajemen Bisnis Syariah angkatan 2018 yang kini resmi menyandang gelar sarjana — dan bekerja di BUMN Permodalan Nasional Madani (PNM) cabang Sidoarjo.

Perjalanannya bukan tanpa luka. Ketika pandemi Covid-19 melanda, Febri memutuskan bekerja paruh waktu di sebuah resto steak demi bertahan hidup. Namun, pekerjaan itu tak berhenti sampai pandemi usai — justru menjadi rutinitas yang membuat studinya terhambat. Ia tertinggal kuliah, semester demi semester, hingga menyentuh angka yang ditakuti mahasiswa mana pun: Semester 14.

“Saya sempat merasa sudah tidak mungkin lulus. File skripsi hilang, laptop dicuri. Rasanya semua semesta menolak,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca saat selesai menjalani munaqosyah.

Namun, di titik terendah itulah tekad Febri bangkit. Ia mulai mengatur ulang hidupnya. Dosen pembimbing kembali ia hubungi. Skripsi ia tulis ulang dari nol. Waktu ia cicil dari sisa energi bekerja.

Hingga akhirnya, pekan ini, ruang munaqosyah FEBI menjadi saksi bahwa harapan itu benar-benar ada. Tangis haru mewarnai momen kelulusannya — tidak hanya karena Febri berhasil menjadi sarjana, tapi juga karena ia kini telah menjadi bagian dari Permodalan Nasional Madani, BUMN yang fokus memberdayakan perempuan prasejahtera melalui pembiayaan dan pendampingan usaha mikro.

“Saya ingin dedikasikan pengalaman ini untuk masyarakat kecil. PNM membuka jalan itu. Dan FEBI sudah menyiapkan saya dengan fondasi keilmuan yang kokoh,” ujar Febri dengan senyum lega.

Kisah Febrianingrum bukan hanya tentang menyelesaikan kuliah. Ini adalah cerita tentang bertahan, bangkit, dan akhirnya menang. Kemenangan yang tidak datang di semester 8, tapi justru di ujung batas — yang membuktikan, bahwa akhir yang indah tak pernah terlambat datang bagi mereka yang tetap melangkah.

Selamat, Febrianingrum. Jalanmu kini bukan lagi tanjakan. Tapi tangga menuju kontribusi besar untuk negeri.

Baca berita lainnya di FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta

Ilustrasi digital bergaya flat menampilkan pria dan wanita berjabat tangan dengan latar hijau, simbol bulan sabit-bintang Islam, dan ikon dolar emas, disertai teks besar 'Pasar Sukuk Korporasi Global: Saat Etika dan Bisnis Bertemu di Jalur Syariah'

Pasar Sukuk Korporasi Global: Saat Etika dan Bisnis Bertemu di Jalur Syariah

Oleh: Prof Dr Hj Datien Eriska Utami, SE, Msi

Menelaah dinamika pasar sukuk korporasi global, peran otoritas syariah, dan kepastian regulasi dalam memperkuat keuangan syariah dunia

Sukuk mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang, tapi instrumen keuangan ini semakin bersinar di panggung global. Tidak hanya sebagai alternatif pembiayaan berbasis syariah, pasar sukuk korporasi global kini jadi medan yang mempertemukan nilai-nilai etika, kekuatan finansial, dan kepastian hukum.

Dalam orasi ilmiah yang mengupas tajuk “Dinamika Pasar Sukuk Korporasi Global”, muncul benang merah yang penting: suksesnya sukuk tak hanya ditentukan oleh neraca keuangan perusahaan, tapi juga oleh pengawasan syariah yang kuat dan regulasi hukum yang berpihak pada transparansi serta perlindungan investor.

Keuangan: Faktor yang Tak Bisa Diabaikan

Seperti halnya pasar obligasi, sukuk sangat bergantung pada kesehatan finansial perusahaan. Data menunjukkan bahwa perusahaan dengan ukuran besar dan tingkat utang yang tinggi cenderung lebih aktif menerbitkan sukuk. Uniknya, tingkat keuntungan atau profitabilitas justru bukan faktor utama.

Di sisi lain, faktor eksternal seperti suku bunga dan kestabilan ekonomi negara juga ikut bermain. Jadi, meski berlabel “syariah”, pasar sukuk tetap tak lepas dari fluktuasi ekonomi global.

Peran Dewan Syariah: Penjaga Etika dan Kepercayaan

Setiap sukuk harus disetujui oleh Sharia Supervisory Board (SSB) — tim ahli syariah yang memastikan bahwa produk keuangan ini benar-benar patuh prinsip Islam. Mereka memverifikasi apakah sukuk berbasis ijarah (sewa), mudharabah (kemitraan), atau wakalah (agen) sesuai dengan nilai-nilai syariah.

Bukan sekadar simbol, keberadaan SSB yang kompeten dan independen bisa jadi faktor penentu kepercayaan investor, baik dari kalangan Muslim maupun institusi global. Tantangannya? Harmonisasi fatwa antarnegara, agar tidak terjadi kebingungan di tengah investor internasional.

Sebagai produk keuangan yang berbeda dari obligasi konvensional, sukuk butuh kerangka hukum yang spesifik. Sayangnya, banyak negara belum punya regulasi yang kuat untuk memastikan kontrak syariah bisa ditegakkan, serta melindungi investor dengan transparansi penuh.

Contoh terbaik saat ini masih didominasi oleh Malaysia dan Uni Emirat Arab, sementara negara lain harus bergegas mengejar dengan regulasi yang sinkron antara hukum nasional dan prinsip syariah.

Menuju Pasar Sukuk yang Kuat dan Kompetitif

Pasar sukuk punya potensi besar, tapi hanya jika ketiga pilar — keuangan yang sehat, pengawasan syariah yang terpercaya, dan regulasi hukum yang kokoh — bergerak dalam satu irama.

Apa yang bisa kita lakukan?

  • Dorong edukasi dan riset soal sukuk di dunia akademik dan industri;
  • Bangun kapasitas Dewan Pengawas Syariah agar lebih profesional dan global-minded;
  • Bentuk kerangka hukum nasional yang selaras dengan standar syariah internasional.

Dengan kerja sama lintas negara, sektor industri, dan dunia akademik, pasar sukuk korporasi global bisa tumbuh sebagai pilar keuangan yang bukan hanya kompetitif — tapi juga beretika dan inklusif.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya di FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta.