monev 23

Prodi Akuntansi Syariah FEBI UIN Raden Mas Said Gelar Rapat Monitoring dan Evaluasi Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2023

Surakarta, 19 Desember 2023 — Prodi Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengabdian kepada Masyarakat pada tanggal 18–19 Desember 2023. Kegiatan ini bertempat di Ruang Rapat FEBI dan dihadiri oleh para dosen pelaksana program pengabdian tahun berjalan.

Rapat ini bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi capaian dari berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan oleh dosen AKS FEBI selama tahun 2023. Agenda utama kegiatan adalah presentasi hasil pengabdian yang meliputi pelaksanaan program, keterlibatan mitra masyarakat, dampak kegiatan, serta luaran atau output yang dihasilkan, seperti publikasi, modul, dan media edukatif lainnya.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI menyampaikan pentingnya kegiatan monev sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik sekaligus wujud komitmen FEBI dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari kontribusi nyata akademisi dalam menjawab kebutuhan dan permasalahan sosial di masyarakat,” ujarnya.

Evaluasi dilakukan secara menyeluruh untuk menilai efektivitas kegiatan serta memberikan masukan perbaikan ke depan. Beberapa catatan strategis juga dibahas, termasuk penguatan kolaborasi dengan mitra eksternal, perencanaan program berkelanjutan, serta peningkatan kualitas luaran agar berdampak lebih luas.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan FEBI dapat semakin terarah, inovatif, dan memberikan kontribusi maksimal baik bagi masyarakat maupun pengembangan keilmuan di bidang Akuntansi Syariah.

dipa1

FEBI UIN Raden Mas Said Sukses Laksanakan MONEV Penelitian dan Publikasi Non-DIPA Tahun 2023

Sukoharjo – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta telah melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Penelitian dan Publikasi Non-DIPA Tahun Anggaran 2023 dengan lancar dan sukses. Kegiatan ini merupakan bentuk akuntabilitas terhadap pelaksanaan program penelitian yang didanai Non-DIPA sekaligus upaya peningkatan kualitas dan relevansi penelitian di lingkungan FEBI.

Kegiatan MONEV dilaksanakan pada tanggal 20–25 Oktober 2023 di Ruang Rapat FEBI dan diikuti oleh para perwakilan dosen peneliti yang menerima dana penelitian Non-DIPA. Melalui kegiatan ini, tim MONEV menilai kemajuan, kendala, serta kesesuaian pelaksanaan penelitian dengan proposal dan roadmap FEBI.

Ketua Tim MONEV menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk memastikan bahwa penelitian berjalan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Dalam proses pelaksanaan, para peneliti mempresentasikan hasil penelitian, termasuk luaran berupa draft publikasi di jurnal nasional dan internasional.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh tim peneliti berhasil melaksanakan penelitian sesuai rencana. Sebanyak 74 publikasi ilmiah berhasil dihasilkan, terdiri dari:

  • 7 Publikasi di jurnal internasional bereputasi
  • 1 Publikasi di jurnal internasional lainnya
  • 3 Seminar internasional
  • 43 Publikasi di jurnal nasional (SINTA 2–5)
  • 20 Publikasi di jurnal nasional lainnya

FEBI juga mencatat keberhasilan kolaborasi internasional dalam beberapa penelitian yang memperkaya metodologi dan akses data peneliti. Meskipun terdapat sejumlah kendala administratif, seperti perbedaan waktu dan budaya kerja dengan mitra luar negeri, hal tersebut berhasil diatasi dengan koordinasi yang baik.

Dalam sesi evaluasi, Tim MONEV memberikan rekomendasi strategis, di antaranya: penyederhanaan prosedur administrasi, pelatihan publikasi internasional dan manajemen riset, enguatan jejaring akademik global, optimalisasi luaran melalui diseminasi dan paten, dan pengembangan roadmap penelitian kolaboratif jangka Panjang

Dekan FEBI, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas kerja keras tim peneliti dan seluruh pihak yang telah berkontribusi. Ia berharap hasil MONEV ini dapat menjadi pijakan dalam menyusun strategi penguatan penelitian yang berdampak nyata pada pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat. “Kami berkomitmen mendorong keberlanjutan penelitian berkualitas, terutama yang menjawab isu-isu kontemporer dalam ekonomi dan bisnis Islam,” ujar Tim MONEV dalam penutupan kegiatan.

Kegiatan MONEV ini menjadi bagian dari upaya FEBI dalam mendukung visi UIN Raden Mas Said Surakarta untuk menjadi pusat pengembangan ilmu berbasis integrasi keilmuan dan spiritualitas.

monev

Rapat Monev Pengabdian kepada Masyarakat Prodi Akuntansi Syariah FEBI UIN Raden Mas Said Surakarta

Surakarta, 13 Desember 2022 — Program Studi Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta, melaksanakan Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengabdian kepada Masyarakat pada tanggal 12–13 Desember 2022, bertempat di Ruang Rapat FEBI. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh dosen Prodi Akuntansi Syariah yang terlibat sebagai pelaksana program pengabdian selama tahun 2022.

Agenda rapat monev ini meliputi presentasi hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan oleh masing-masing dosen, serta diskusi langsung mengenai tantangan, capaian, dan luaran dari kegiatan yang dilaksanakan. Setiap dosen memaparkan proses pelaksanaan program, keterlibatan mitra masyarakat, serta hasil akhir yang diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sasaran.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana pengabdian yang dilakukan telah mencapai target luaran yang direncanakan, sekaligus menjadi forum refleksi dan pembelajaran bersama dalam meningkatkan mutu pelaksanaan pengabdian ke depan. Selain itu, forum ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan strategi antar dosen dalam mengembangkan program pengabdian yang berbasis pada keilmuan akuntansi syariah.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI menyampaikan apresiasi atas kontribusi seluruh dosen dalam menyukseskan program pengabdian. “Rapat monev ini menjadi bagian penting dari proses akademik yang tidak hanya menilai hasil, tetapi juga mendorong kualitas pengabdian agar lebih kontekstual, kolaboratif, dan berdampak,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Prodi Akuntansi Syariah dapat terus ditingkatkan, baik dari segi kualitas, relevansi program, maupun keberlanjutannya dalam mendukung peran UIN Raden Mas Said sebagai perguruan tinggi berbasis riset dan pemberdayaan masyarakat.

Dosen FEBI IAIN Surakarta lakukan Pengabdian Masyarakat berupa Edukasi Pedagang Sayuran di Era New Normal

FEBI News| Dosen FEBI IAIN Surakarta Drs. Sri Walyoto, Ph.D melakasanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema “Penyuluhan Menjual dan Membeli sayuran pada masa new normal”. Kegiatan ini berlokasi di Bolon Colomadu Karanganyar pada tanggal 5 Juli 2020. Narasumber Ibu Dra. Hj. Uninghadiati, MM dan Moderator Bapak Achmad Jati Prakoso, M. Esy., AKA CA CPA. Sebagai peserta kegiatan ini adalah penjual sayuran dan ibu/bapak pembeli sayuran di perumahan Indraindah Bolon Colomadu Karanganyar.

Dengan adanya pandemi covid-19 ini membuat banyak masyarakat menjadi panik dan bingung harus bagaimana bertindak. Dalam hal ini perlu adanya edukasi masyarakat bagaimana berstrategi mensiasati hidup dengan cara baru ini berupa berdampingan dengan corona, yaitu ikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah, terus berdoa dan lakukan aktivitas dengan aman dan sehat. (SW)

Bursa Siang: Ekspektasi Pemulihan Ekonomi Angkat Pasar Regional, IHSG Melandai

Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) bergerak mendatar pada sesi I perdagangan hari Kamis (6/2). IHSG stagnan ke level 5.977.

Indeks LQ45 -0,22% ke 974. Indeks IDX30 -0,27% ke level 533. Indeks IDX80 -0,12% ke 136. Indeks JII -0,65% ke posisi 643. Indeks Kompas100 -0,09% ke 1.221. Indeks Sri Kehati -0,14 persen ke 389. Indeks SMInfra18 -0,26 persen ke level 298.

Saham-saham teraktif: PURA, TLKM, NIKL, BBNI, EAST, JPFA, LMAS.

Saham-saham top gainers LQ45: ERAA, LPPF, BBTN, INKP, ACES, PGAS, CTRA.

Saham-saham top losers LQ45: BBRI, TLKM, BBCA, BBNI, SCMA, ADRO, TBIG.

Nilai transaksi mencapai Rp3,24 triliun. Volume trading sebanyak 31,34 juta lot saham. Investor asing membukukan beli bersih -Rp79,06 miliar.
Nilai tukar rupiah menguat +0,585 persen ke level Rp13.590 terhadap USD (12.00 PM).

Bursa Asia
Pasar saham Asia berada di jalur penguatan pada perdagangan di sesi pagi hari Kamis (6/2). Market Asia terdorong oleh penutupan perdagangan bursa Wall Street yang kembali menorehkan rekor tertinggi. Meskipun demikian para investor terus mencermati perkembangan wabah virus corona di China.

“Virus corona terus menyebar jadi pelaku pasar tetap berhati-hati. Tetapi pasar saat ini tampak berpikir bahwa akan ada pemulihan ekonomi secara cepat setelah dalam jangka pendek melemah,” kata Analis Sumitomo Mitsui DS Asset Management, Masahiro Ichikawa seperti dikutip Reuters.

Market saham Jepang menjadi motor penggerak penguatan pasar saham Asia seiring kenaikan signifikan Indeks Nikkei 225 saat sesi siang masih berlangsung. Indeks Topix naik 2,17 persen.
Bursa saham Korsel juga melaju kencang. Penguatan Indeks Kospi di bursa Korsel mendapat sokongan kenaikan harga saham Hyundai Motor yang mencapai 5 persen.

Indeks Hang Seng di bursa Hong Kong parkir di zona hijau. Demikian juga dengan pasar saham Tiongkok menuju ke zona positif. Indeks Shenzhen Composite naik 2,094 epersen dan Indeks Shenzhen Component menguat 1,94 persen.
Adapun Indeks S&P/ASX200 juga ke level positif. Data yang dirilis Badan Statistik Australia menunjukkan penjualan ritel turun 0,5 persen di periode Desember.

Indeks MSCI Asia Pasifik (tidak termasuk bursa saham Jepang) naik 1,28 persen.
Indeks dolar AS menguat ke level 98,3 dibanding sesi sebelumnya pada posisi 97,9. Sementara dolar Australia menguat di posisi $0,6757 dibanding level sebelumnya sebesar $0,6741. Kurs yen melemah di level 109,93 terhadap USD dibanding level sebelumnya pada posisi 109,5.

Sumber : https://indopremier.com/newsDetail.php?jdl=Bursa_Siang__Ekspektasi_Pemulihan_Ekonomi_Angkat_Pasar_Regional__IHSG_Melandai&news_id=115487&group_news=IPOTNEWS&taging_subtype=IPSNEWS&name=&section=

Blackout yang melumpuhkan

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik, slogan Perusahaan Listrik Negara (PLN) kini tengah menghadapi ujian penting. Ujian tersebut datang pekan lalu, blackout di hari Minggu yang nyaris melumpuhkan aktivitas warga.
 
Lebih dari 24 jam, PLN belum mampu membuktikan 100% layanannya mampu berjalan normal. Masyarakat masih terancam hidup dalam dalam gelap gulita. Janji perusahaan negara yang melayani urusan sentrum ini memperbaiki kerusakan transmisi masih belum teruji.
 
PLN mengaku harus menanggung kerugian selama 10 jam blackout sebesar Rp 90 miliar lantaran tak bisa menjual aliran setrumnya. Tengu kerugian akan bertambah lantaran lebih dari sehari, listrik belum benar-benar terang semua.
 
Sah dan boleh saja, PLN menyebut kerugian yang harus BUMN ini. Hanya tak elok jika PLN doang yang menghitung kerugian. Kerugian akibat listrik mati yang harus ditanggung rakyat lebih dari yang harus disebut oleh perusahaan negara yang bertugas melayani publik dalam urusan sentrum itu.
Kerugian yang dialami mulai dari rumah tangga sampai urusan bisnis. Bendahara rumah tangga alias ibu-ibu harus berjibaku menekan kerugian akibat isi kulkasnya basi. Tak terhitung berapa besar bahan bakar minyak yang terbuang akibat tak berfungsinya lalu lintas jalanan. Macet membakar uang BBM ke udara.
 
Transaksi keuangan juga harus menanggung kerugian akibat tak ada aktivitas transaksi, pusat perbelanjaan harus menambah pengeluaran untuk menyalakan bisnisnya, transaksi e-commerce juga tersendat lantaran operator off line, operator telekomunikasi juga harus merelakan layanan data dan suaranya merugi. Kalkulator terus mengetuk angka kerugian.
 
Mati listrik menjadi pelajaran PLN untuk membaiki diri, dengan berani menetapkan batas toleransi. Ukuran ini penting untuk memacu lebih baik lagi dalam melayani publik. Zaman now, mati listrik adalah kemunduran, apalagi di tengah upaya membuka diri investasi kendaraan listrik dengan aneka insentif. Tak terbayang jika motor, mobil listrik, kehabisan daya akibat blackout.
 
Jaminan kepastian penting bagi investor yang akan membenamkan duitnya di kendaraan listrik. Klaim kelebihan pasokan listrik PLN harus dibarengi dengan keandalan jaringan. Blackout 24 jam lebih bukti kalau perbaikan PLN belum nyetrum sampai akarnya. Upaya membuat listrik untuk kehidupan lebih baik masih keteteran, alih-alih bisa PLN buktikan ke publik.
sumber: https://analisis.kontan.co.id/news/blackout-yang-melumpuhkan

Umur 11 tahun, Warren Buffet membeli saham pertama langsung di NYSE

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mulai berbisnis sejak usia lima tahun, membeli saham sejak usia 1 tahun, itulah Warren Buffet. Dialah CEO Berkshire Hathaway dan investor paling sukses sedunia.

Warren Buffet menjadi pialang andal tidaklah jatuh dari langit. Darah bisnis telah mengalir dalam tubuhnya. Ayahnya, Howard Buffet, adalah pemilik perusahaan broker kecil. Kakeknya adalah pemilik toko kelontong di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat (AS).

Warren Buffet lahir pada tanggal 30 Agustus 1930. Dia dibesarkan di Omaha bersama kakaknya, Doris Buffet, dan adiknya, Roberta Buffet. Buffet merupakan anak laki-laki satu-satu di keluarga Howard Buffet dan Leila Buffet.

Warren kecil banyak menghabiskan waktu di kantor ayahnya. Dia melihat apa yang investor lakukan dan mendengarkan apa yang mereka katakan. 

Sebagai seorang anak Buffet selalu tertarik pada angka-angka yang acap dia lihat dan dapat dengan mudah mengerjakan perhitungan matematika yang kompleks.

Bahkan, pada usia delapan tahun, dia mulai membacai buku-buku ayahnya mengenai pasar saham.

Minat bisnis dan investasinya memang begitu menggelegak. Salah satu bisnis awal Buffet sejak usia lima tahun adalah menjual permen karet, Coca Cola, dan majalah mingguan dari pintu ke pintu. Itu dilakukan sambil bekerja pada toko kelontong milik kakeknya.

Pada suatu waktu, ketika bersama ayahnya melakukan perjalanan ke pantai timur, Buffet mendatangi New York Stock Exchange (NYSE) dan membeli tiga saham untuk pertama kalinya, yaitu saham Cities Service Preferred. Saat itu dia berusia sebelas tahun.

Ketika SMP Buffett berinvestasi pada perusahaan ayahnya dan membeli 16 hektare lahan pertanian. Dia membeli lahan tersebut pada usia 14 tahun dengan hasil menabungnya sebesar US$ 1.200.

Waktu SMA kelas dua, tahun 1945, dia bersama temannya berpatungan membeli masin pinball US$ 25 dan ditempatkan di sebuah salon.

Ternyata bisnis ini menguntungkan. Hanya dalam beberapa bulan mereka berdua sudah memiliki tiga mesin pinball. Meskipun, kemudian mereka menjualnya. 

Keasyikan berbisnis membuat dia tidak ingin berkuliah. Namun, ayahnya memaksa. 

Berkuliahlah Buffet di Wharton School of the University of Pennsylvania dan akhirnya pindah ke Universitas Nebrakas hingga meraih gelar sarjana ekonomi pada usia 19 tahun

Dia lalu melanjutkan ke program magister di Universitas Columbia, setelah ditolak ketika melamar ke Harvard University. 

Tampaknya pilihan berkuliah di Columbia University bukanlah pilihan asal-asalan. Buffet tahu persis bahwa idolanya, Benjamin Graham, mengajar di universitas tersebut.

Dari kelas analis saham yang diajar profesor yang satu itu Buffet belajar fundamental value investing. Kelak metode value investing menjadi pegangannya.

Buffet memang mengidolakan Graham setelah membaca buku The Intelligent Investor yang ditulisnya. Bahkan, dia mengatakan bahwa buku itu yang mengubah hidupnya dan membawanya kepada jalur analisis profesional ke pasar investasi.

sumber: https://internasional.kontan.co.id/news/umur-11-tahun-warren-buffet-membeli-saham-pertama-langsung-di-nyse

Direktorat Pajak Sederhanakan Aturan PPh 25 Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) mencabut Peraturan Direktur Jenderal (Perdirjen) Pajak Nomor 32/PJ/2010 tentang Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu. Pencabutan beleid ini lewat penerbitan Perdirjen Pajak No. 14/PJ/2019 yang ditetapkan pada 3 Juli lalu.

Hestu Yoga Saksama, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Ditjen Pajak, menjelaskan, aturan dicabut demi menyederhanakan ketentuan sekaligus memberikan kepastian hukum. Ketentuan dalam Perdirjen tersebut, yang terkait tarif PPh Pasal 25 sebesar 0,75% sudah diatur dalam PMK (Peraturan Menteri Keuangan) No. 215/2018. Sedangkan substansi pengaturan lainnya dalam Perdirjen No. 32/2010 merupakan pengaturan yang sifatnya umum. Jadi, kami cabut, ungkapnya kemarin (21/7).

Perdirjen No. 32/2010 merupakan turunan dari PMK No. 208/PMK.03/2009 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran PPh dalam Tahun Pajak Berjalan yang Harus Dibayar Sendiri oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Wajib Pajak Masuk Bursa, dan Wajib Pajak Lainnya. Yang berdasarkan ketentuan, mereka wajib membuat laporan keuangan berkala. PMK ini juga berlaku bagi wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu.

Dalam PMK No. 208/2009, perhitungan PPh berdasarkan penerapan tarif umum atas laba rugi fiskal menurut laporan keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan. Kemudian, dikurangi PPh 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak sebelumnya dan dibagi 12.

Tapi sejak akhir tahun lalu, PMK tersebut diperbarui menjadi PMK No. 215/2018. Beleid ini mengubah ketentuan dasar untuk penghitungan angsuran PPh 25 bagi wajib pajak bank serta mempertegas aturan perhitungan angsuran PPh 25 untuk wajib pajak lain.

PMK No. 215/2018 menyebutkan, perhitungan angsuran PPh 25 untuk wajib pajak bank mengacu pada laporan keuangan yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yang terdiri dari laporan posisi keuangan dan laba rugi sejak awal tahun pajak sampai dengan masa pajak yang dilaporkan.

Selain itu, PMK No. 215/2018 juga mengatur dasar untuk penghitungan angsuran PPh 25 bagi wajib pajak lainnya dan yang masuk bursa selain perbankan. Perhitungan angsuran PPh-nya berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan secara kuartalan kepada bursa dan OJK.

sumber: https://insight.kontan.co.id/news/direktorat-pajak-sederhanakan-aturan-pph-25-bagi-wajib-pajak-orang-pribadi

Jelang RDG BI, rupiah di pasar spot terkoreksi di awal perdagangan hari ini

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah di perdagangan pasar spot dibuka melemah di awal perdagangan hari ini. Rabu (17/7) pukul 08.15 WIB, rupiah ada di Rp 13.945 per dollar AS, melemah 0,07% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 13.935 per dollar AS.

Koreksi rupiah terjadi lantaran investor masih menunggu keputusan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang akan diputuskan dalam rapat dewan gubernur yang digelar mulai hari ini hingga Kamis (18/7).

Pelemahan rupiah terjadi di tengah pelemahan mata uang Asia lainnya seperti dollar Singapura yang melemah 0,02%, ringgit Malaysia melemah 0,03%, dollar Taiwan melemah 0,07% dan peso Filipina yang melemah 0,12%, won Korea melemah 0,26% dan rupee India yang melemah 0,23% terhadap dollar AS.

Sementara itu, indeks dollar yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama lainnya terkoreksi tipis ke 97,35, dari sehari sebelumnya yang ada di 97,39.  

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/jelang-rdg-bi-rupiah-di-pasar-spot-terkoreksi-di-awal-perdagangan-hari-ini

Bank jumbo tanah air terus mencetak rekor kapitalisasi pasar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank besar tanah air terus mencetak rekor kapitalisasi pasar. Tak cuma di tingkat nasional, tiga Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 4 Indonesia juga mendominasi papan atas bank dengan kapitalisasi terbesar di Asia Tenggara.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA, anggota indeks Kompas100) misalnya menutup perdagangan dengan harga saham per lembar Rp 30.125 melonjak 125 poin, setara 0,42% dari penutupan sebelumnya di harga Rp 30.000 per lembar. Nilai tersebut merupakan yang paling tinggi dalam lima tahun terakhir.

Capaian tersebut terus membuat posisi perseroan makin kokoh sebagai perbankan pemilik kapitalisasi pasar terbesar di Asia Tenggara. Dari penelusuran Kontan.co.id pada 11 Juli 2019, nilai bank swasta terbesar di tanah air ini mencapai US$ 52,54 miliar. Nilai tersebut jauh mengungguli peringkat kedua yaitu DBS

Group Singapura yang punya kapitalisasi pasar US$ 47,88 miliar.

“Kami tidak memiliki strategi khusus terkait market cap, fokus kami bagaimana dapa memberikan layanan yang baik kepada pelanggan sembari menjaga resiko dan menerapkan good corporate governance (GCG),” kata Direktur BCA Santoso liem kepada Kontan.co.id, Kamis (11/7).

Mitigasi resiko yang baik memang jadi salah satu nilai tambah yang dimiliki perseroan. Sebelumnya Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja pernah menjelaskan kepada Kontan.co.id kalau perseroan perseroan memang cukup selektif memilih debitur. Tujuannya tentu untuk menjaga kelancaran kredit.

Misalnya, BCA hanya akan menyalurkan kredit kepada korporasi yang dinilainya berkualitas, dan punya potensi untuk mendiversifikasi bisnisnya. Meski selektif, penyaluran kredit BCA nyatanya tetap mumpuni. Hingga Mei 2019 saja, penyaluran kredit perseroan telah mencapai Rp 554,88 triliun, nilai ini tumbuh 14,05% (yoy) dibandingkan raihan perseroan pada Mei 2019 senilai Rp 486,50 triliun.

“Semester kedua ini, kami tidak merevisi rencana bisnis bank (RBB) kami. Karena kami sudah memperhitungkan beberapa hal faktor seperti perang dagang. Masih konservatif, kredit kami targetkan tumbuh 10%-11%, dan dana pihak ketiga 7%-8%,” kata Jahja kepada Kontan.co.id belum lama ini.

Sementara di peringkat ketiga daftar bank pemilik kapitalisasi pasar terbesar di Asia Tenggara juga ditempati bank asal Indonesia yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI, anggota indeks Kompas100). Dalam penutupan perdagangan Kamis (11/7) bank terbesar di tanah air ini terus melanjutkan tren peningkatan harga sahamnya senilai Rp 4.510, meningkat 40 poin, atau setara 0,89% dari penutupan perdagangan kemarin.

Dari nilai tersebut kapitalisasi pasar Bank BRI tercatat mencapai US$ 39,17 miliar. Pun nilai harga saham hari ini menciptakan rekor baru harga saham perseroan, dimana rekor tertinggi sebelumnya tercatat Rp.4.460 per lembar saham pada April 2019.

“Beberapa sentimen positif yang mendorong investor terus memburu saham BBRI diantaranya potensi pertumbuhan bisnis BRI yang ditopang di segmen mikro, perkembangan inovasi digital banking BRI serta dampak relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM) sehingga menambah likuiditas perseroan,” ujar Corporate Secretary Bank BRI Bambang Tribaroto.

Hingga Mei 2019, penyaluran kredit BRI sendiri telah mencapai Rp 835,22 triliun, tumbuh 11,04% (yoy) dibandingkan Mei 2018 senilai Rp 752,14 triliun. Sedangkan dari catatan pada kuartal 1/2019, porsi kredit UMKM perseroan sebesar 62,8% dari total portofolio kredit. Sedangkan hingga akhir tahun pertumbuhan kredit BRI ditargetkan di kisaran 12%-14%.

Adapula bank pelat merah lain, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, anggota indeks Kompas100) yang berada di posisi kelima bank pemilik kapitalisasi pasar terbesar di Asia Tenggara senilai US$ 26,35 miliar. Dalam penutupan perdagangan Kamis (11/7) harga saham bank berlogo pita emas ini menguat 50 poin setara 0,63% menjadi Rp 8.000 per lembar. Meski nilai tersebut bukan rekor tertinggi yang pernah dicetaknya.

Hingga Mei 2019, perseroan telah menyalurkan kredit Rp 713,42 triliun, tumbuh 10,96% (yoy) dibandingkan Mei 2019 senilai Rp 642,91 triliun. Tahun ini perseroan pun mulai atur ulang strategi penyaluran kreditnya untuk menyasar kredit beresiko rendah seperti mikro, ritel, dan konsumer. 

Tujuannya Bank Mandiri terus berupaya menekan rasio non performing loan (NPL). Maklum, pada kuartal 4/2016 NPL perseroan mencapai 4%. Sedangkan pada kuartal 1/2019 rasionya sebesar 2,68%

Khusus untuk segmen konsumer, perseroan juga kini tengah merencanakan untuk berekspansi ke Filipina dan Vietnam untuk mengembangkan bisnis Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Perseroan berencana mengakuisisi lembaga keuangan maupun multifinance di dua negara tetangga tersebut.

“Pertimbangan utama yang kita mengerti bisnisnya, yang generik sama di sini. Misalnya Vietnam Filipina itu KKB, ini yang kita bidik khususnya di segmen ritel. Sehingga bukan cuma dari bank saja,” kata Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas belum lama ini.

Rencana akuisisi ini dilakukan sebab perseroan punya kelebihan modal hingga Rp 30 triliun. Dana ini sebelumnya direncanakan untuk mengempit saham PT Bank Permata Tbk (BNLI), sayang ikhtiar tersebut gagal.

Kemudian adapula PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, anggota indeks Kompas100) yang meskipun tak masuk sepuluh bank pemilik kapitalisasi pasar terbesar d Asia Tenggara, nilainya terus meningkat. Hingga Kamis (11/7) nilai kapitalisasi pasar bank berlogo angka 46 ini mencapai US$ 12,12 miliar, tumbuh 31,59% dibandingkan kuartal 2/2018 senilai US$ 9,21 miliar.

Sedangkan dari penutupan perdagangan Kamis (11/7) nilai saham perseroan menguat 100 poin, atau setara 1,09% menjadi Rp 9.250 per lembar saham.

“Untuk mendorong kapitalisasi pasar, Kami terus melakukan peningkatan kinerja keuangan dengan fokus strategi pada kualitas fundamental keuangan dengan menjaga ROE pada rasio di kisaran peers,” kata Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta kepada Kontan.co.id.

Dengan strategi tersebut, ditambah pengelolaan biaya operasional dan peningkatan cadangan kerugian Herry berharap profitabilitas perseroan bisa terus melaju. Hingga Mei 2019, perseroan telah menyalurkan kredit Rp 503,02 triliun, tumbuh 19,37 % (yoy) dibandingkan Mei 2019 senilai Rp 421,38 triliun.

“Kami menargetkan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun di kisaran 13%-15%. Target ini akan kami capai dengan ekspansi pada sektor-sektor potensial dan pemain-pemain utama yang bergerak pada sektor tersebut, pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur yang masih jadi fokus pembangunan serta optimalisasi kredit konsumer berbasis payroll dan KPR,” lanjutnya.

sumber: https://keuangan.kontan.co.id/news/bank-jumbo-tanah-air-terus-mencetak-rekor-kapitalisasi-pasar